Tolak Cawabup Plotingan dan Mahar Politik

Ilustrasi (ist)

CIKARANG PUSAT – Proses tahapan seleksi Calon Wakil Bupati (Cawabup) Bekasi, menggantung. Namun perhelatan makin seru dan banyak tim tim loby cawabup mulai kasak kusuk. Isu-isu miring dan hoax juga bertebaran, diantaranya isu pribumi dan non pribumi, isu cawabup dari unsur birokrat /ASN yang harus mundur dari ASN, isu tersangkut kasus korupsi Meikarta atau setidaknya tersandera kasus Meikarta dan isu adanya calon plotingan dari elit parpol. Belakangan isu perpecahan antar parpol pengusung.

“Hal itu biasa dalam perpolitikan. Apalagi semua cawabup pasti mempunyai timses untuk memuluskan proses pencalonannya. Yang terpenting tetap menjaga persatuan dan mengedepankan politik etika serta beradab,” jelas Pemerhati Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo, Rabu (10/07/2019).

Menurutnya, meski menjadi hak mutlak parpol pengusung, pansel (jika sudah terbentuk lagi yang baru) harus mau mendengarkan masukan-masukan dari berbagai kelompok publik sekaligus sebagai uji publik calon yang dimunculkan bermasalah atau tidak. Baik permasalahan hukum, masalah etika moral dan rekam jejak. Selain ukuran penerimaan koalisi pengusung, ukuran penerimaan publik juga penting dan memiliki track record yang mumpuni.

“Kasus mega proyek Meikarta harus menjadi pembelajaran maka dibutuhkan orang yang bersih, berani, lugas dan visioner,” tegasnya.

Dia berharap para elit parpol tidak mengambil keuntungan pribadi dan aji mumpung dengan mengedepankan syahwat politiknya tanpa memikirkan perlunya pemimpin baru yang mampu memberikan kontribusi positif pembangunan Kabupaten Bekasi ke depan. Problematika Kabupaten Bekasi terkait pengangguran, ketimpangan industrial-permukiman, kepuasan pelayanan publik yang terus menurun, pemerataan pembangunan, kemiskinan dan urban perkotaan diperlukan tangan dingin pemimpin yang berani melawan arus, tegas, memiliki terobosan besar, pekerja keras dan pekerja cerdas.

Untuk itu dalam proses seleksi harus menghindarkan transaksional atau mahar politik serta menolak plotingan yang belum tentu menghasilkan pemimpin yang diharapkan publik secara umum.(ZAL)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*