Mengulik Sejarah Batik Bekasi

Kordinator dan penanggung jawab Galeri D'Bhagasasi, Barito Hakim Putra.

BEKASI TIMUR-Keprihatinan generasi muda akan kelestarian warisan budaya lokal yang dimiliki Bekasi, membuat Barito Hakim Putra dan kawan kawan merasa terpanggil untuk melestarikan batik Bekasi dengan mendirikan Koperasi Komunitas Batik Bekasi (Koperasi Kombas).

“Dulu itu tahun 2009 pas ditetapkanya Hari Batik Nasional, kita punya tugas merasa terpanggil, batik itu harus dilestarikan dan dikembangkan,” ucap Barito kepada awak media di Galerry D’ Bhagasasi, Selasa (27/08/2019).

Diungkapkannya, ketika wilayah Bekasi masih meliputi Jatinegara hingga Karawang, Bekasi memiliki batik dengan nama batik Karawang, dan pada tahun 1863 sempat dipamerkan oleh Raden Saleh kepada orang Belanda yang bernama Val Molyen. Namanya batik Tarum (artinya air, namanya identik dengan sungai Citarum). Karena sudah dimiliki oleh Karawang dan beberapa daerah,kemudian dilakukan observasi dan identifikasi bersama dengan para budayawan akhirnya ditemukan 5 unsur yang terdiri dari sejarah,budaya,flora dan fauna.

“Lalu dibuatlah beberapa motif di atas kertas, kemudian oleh Kombas diterjemahkan di atas kain. Kombas juga belajar ngebatik,belajar nyanting secara tradisional,”ujarnya.

Menurut Barito yang juga Kordinator dan penanggung jawab Galerry D’Bhagasasi, selama ini pengembangan batik telah dilakukan kurang lebih selama 10 tahun. Melalui berbagai seminar, hingga pada tahun 2012 telah ditetapkan beberapa pakem batik, dan pada tahun 2014 dilakukan launcing perdana batik Bekasi.

“Setelah punya wadah kita punya produksi, kita jualan, kita rangkul para pengrajin dan penjahit dalam wadah Koperasi Kombas. Dan sekarang kita punya galerry batik Bekasi yang kita beri nama De’ Bhagasasi atau nama lain dari Kota Bekasi,”terang dia

Diharapkan nantinya, Galeri D’Bhagasasi selain sebagai pusat penjualan batik Bekasi sekaligus untuk pengembangan UMKM dan lebih mengenalkan batik Bekasi kepada masyarakat. Saat ini tercatat sudah ada 50 anggota binaan Kombas (pengrajin batik dan penjahit) yang tersebar di 12 wilayah kecamatan se Kota Bekasi.

“Rata-rata ibu rumah tangga dan pengusaha rumahan. Salah satunya kita tempatkan di ruko,” pungkasnya. (RAN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*