Organda: Angkot Adalah Ikon Kota Bekasi, Jangan Dianaktirikan

Ketua DPC Organda Kota Bekasi, Ahmad Juaini (tengah).

BEKASI TIMUR-Ketua Organda Kota Bekasi Ahmad Juaini mendesak pengembalian jalur angkutan kota (angkot) di Terminal Bekasi seperti semula. Sebab menurutnya angkot sudah menjadi ikon yang turut berperan dalam kemajuan pembangunan di Kota Bekasi.

“Kepala terminal jangan lupa dasarnya, angkot di Kota Bekasi ini adalah ikon. Makanya perumahan-perumahan dulu itu bisa maju dan bisa laku itu karena adanya angkot masuk ke dalam perumahan,”ujarnya di kantor Organda, Rabu (09/10/2019).

Menurut Juaini, saat ini Terminal Bekasi dipenuhi dengan bus, sehingga angkot dan mobil Elf yang notabenenya dimiliki pengusaha lokal tidak kebagian jalur untuk mangkal mencari penumpang.

“Yang ada sekarang dipenuhi bus semua, karena rata-rata yang usaha di angkutan itu orang Bekasi,malah seperti dianaktirikan, sedangkan pemilik bus itu mana ada yang orang Bekasi,”kata Juaini

Oleh sebab itu, juaini menegaskan, kepala terminal Bekasi untuk memgembalikan jalur angkot seperti dahulu, sesuai jalurnya masing-masing.

“Kepala terminal jangan bicara ada di barat. Mana tempat pengeteman angkot seperti semula, di mana K.39 B itu dulu ada tempatnya,K.39 polos ada tempatnya, K.36, K.34, Elf, katanya ada tempatnya, mana tempatnya, kembalikan ke tempat asal, jangan biarkan mereka mangkal di luar terminal,¬†membuat macet,” tandasnya.

Lanjut Juaini, angkutan itu banyak menyumbang PAD, tapi jika dikelola dengan bener dan transparan. Jangan sampai pimpinan (walikota) sudah bekerja dengan benar, yang di bawah enggak benar kerjanya tidak sesuai dengan apa yang di instruksikan oleh walikota dan wakil walikota.

“Wakil walikota kan lebih mengetahui itu bagaimana di angkutan, memang itu bidang dia sebelum menjadi wakil,”terang Juaini.

Dijelaskanya, Organda adalah sebuah organisasi legal yang memiliki AD/ART dan didirikan oleh Presiden Sukarno pada tahun 1962, keberadaannya bukan hanya di Kota Bekasi saja, tetapi di seluruh Indonesia.

“Kalau kepala terminal tidak mau bersinergi dengan Organda, tidak masalah. Dengan pimpinan di atas kita baik semua kok, dengan walikota, wakil walikota, dengan Kadishub, dengan Kabidnya, kalau kepala terminal (Kater) merasa alergi dengan Organda, silahkan saja tidak masalah. Organda sudah ada di Kota Bekasi dari dulu sebelum kater ada,”tukasnya.

Sebelumnya, Kepala Terminal Induk Kota Bekasi MH. Kurniawan menyatakan pihaknya telah menyediakan jalur angkot dan Elf di bagian sebelah barat Terminal Bekasi, juga terkait penarikan retribusi di Terminal Bekasi, saat ini pihaknya tengah berusaha untuk meningkatkan Pendapatan Aseli Daerah (PAD) dengan menambahkan jam kerja pada jajarannya.

“Kalau bicara soal jalur angkot, kami dari awal sudah mempersiapkan di jalur barat. Dari dulu itu sudah ada, tapi keinginan supir angkotnya, mungkin karena penumpangnya tidak seperti dulu, dia tidak mau di situ, jadi melintas-melintas saja.kalau kemauan Organda seperti itu, kami akan siapkan kembali, silahkan saja diarahkan,”ujarnya di Terminal Bekasi, Selasa (08/10/2019).

Kurniawan mengatakan, sesuai Perda nomor 17 tahun 2017 besaran tarif retribusi untuk angkot Rp3000, sedangkan untuk bus Rp5000 dan tarif retribusi bus yang menginap di terminal sesuai Perda akan dipungut retribusi sebesar 15 ribu rupiah.

“Ini sesuai Perda nomor 17 tahun 2017, parkir motor roda dua di terminal¬† ada, tapi kita tidak kenakan. Jadi beberapa saja kira-kira yang bisa kita pungut, ya kita pungut, karena sesuai Perda yang ada,”jelasnya. (RAN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*