Jadi Pengendali Banjir, Pemerintah Diminta Lakukan Penataan Situ Cibeureum

Pemerintah diminta lakukan penataan Situ Cibeureum yang saat ini menjadi pengendali banjir dan lokasi wisata alternatif warga di wilayah Tambun Selatan, Bekasi.

TAMBUN SELATAN- Tidak saja memiliki potensi sebagai lokasi wisata alternatif, keberadaan Situ Cibeureum yang berada di wilayah Desa Lambangsari dan Lambangjaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, ternyata memiliki peran penting sebagai salah satu pengendali banjir diwilayah tersebut.

Namun sayangnya, meski memiliki fungsi fital sebagai pengendali banjir, pemerintah dinilai masih tidak maksimal dan terkesan cuek dalam melakukan penataan Situ Cibeureum yang disinyalir semakin terancam keberadaannya.

“Yang kami lihat saat ini pemerintah saling lempar tanggungjawab terkait penataan Situ Cibeureum. Padahal situ tersebut adalah salah satu danau yang saat ini sangat penting sebagai pengendali banjir di wilayah Kabupaten Bekasi, khususnya wilayah Tambun Selatan. Ini harus difikirkan secara serius oleh pemerintah, karena kalau tidak segera dilakukan penataan dan normalisasi Situ Cibeureum, tentunya wilayah rawan banjir di Tambun Selatan akan semakin parah,”ungkap Rohadi, salah satu presidium Forum Masyarakat Peduli Cibeureum, Selasa (15/9/2020).

Terkait persoalan tersebut lanjut Rohadi, pihaknya meminta kepada pemerintah dalam hal ini, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat, untuk duduk bersama dalam mengambil Langkah-langkah pengendalian dan penataan Situ Cibeureum.

“Sebagai catatan saja, dari investigasi yang kami lakukan, pada awal tahun 2020 lalu, banjir hebat yang terjadi di wilayah pemukiman seperti perumahan Kalimas, perumahan Metland, adalah akibat kiriman air Situ Cibeureum yang sudah tidak kuat menampung tingginya volume air. Bahkan, air juga masuk menggenangi jalur Tol Jakarta-Cikampek. Banjir ini akan terminimalisir kalau Situ Cibeureum bisa dimaksimalkan fungsinya,”bebernya.

Tidak sampai disitu, lanjut Rohadi, keberadaan situ Cibeureum yang sudah dikelilingi lahan pengembang perumahan bisa terancam keberlangsungannya. Bukan tidak mungkin akhirnya lahan Situ Cibeureum semakin menyusut, lantaran lemahnya pengendalian yang dilakukan oleh pemerintah.

“Sebagai bagian dari masyarakat yang peduli dengan Situ Cibeureum, kami juga sudah sampaikan persoalan ini kepada pemerintah desa untuk diteruskan ke Kabupaten Bekasi. Dan kami juga sudah datangi langsung Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan kami sampaikan surat ke pak Menteri untuk turun tangan,”ungkapnya.

Sekedar diketahui, danau Situ Cibeureum sendiri dialiri dari Sungai Kali Kembang yang berasal dari hulu sungai Citamiang, Cileungsu, Bogor. Sebelumnya, situ Cibeureum adalah salah satu sumber air untuk sawah pertanian, namun karena perkembangannya, saat ini Situ Cibeureum hanya menjadi pengendali banjir dibawah pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC).

Menariknya, dari sumber dihimpun, luasan yang dimiliki Situ Cibeureum inipun berbeda-beda versi, berdasarkan Perda Nomor 11 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) luas Situ Cibeureum adalah 45 hektare, sedangkan dokumen dari Kementerian PUPR melalui Dirjen Sumber Daya Air luasnya 40 hektare, kemudian data dari Balitbangda seluas 29,451 hektare, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) seluas 24,37 hektare.(RED)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*