Sidang Penipuan Calon TKK Dishub, Terdakwa Akui Hanya Terima Uang Lima Juta

Proses persidangan dugaan penipuan calon TKK Dishub Kota Bekasi.

BEKASI SELATAN – Sidang kelima dugaan penipuan calon Tenaga Kerja Kontrak (TKK) dengan terdakwa Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Bekasi, Amad Junaini di Pengadilan Negeri (PN) Bekasi pada Kamis (22/10/2020) memasuki agenda mendengar keterangan saksi.

Sedangkan majelis sidang diketuai oleh Hakim Togi Pardede SH.Dalam persidangan kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darsiah SH menghadirkan enam orang saksi korban diantaranya, Indrawan Ayib Rosyidi, Eko Budiyanto, Agung Andri Raharjo, Zulkifli, Hendra Wijaya dan Lasmi Lubis.

Sidang dimulai sekitar pukul 10.00 Wib di ruangan Tirta PN Bekasi dengan mendengarkan kesaksian dari EKo Budiyanto dan Indrawan Ayib Rosyidi yang diminta oleh JPU Darsiah SH juga penasihat hukum terdakwa RM Purwadi SH dan Iwan Syahputra SH

Ada yang menarik dalam agenda sidang kali ini, terdakwa Amad Juaini keberatan dan membantah kesaksian Indrawan Ayib Rosyidi, dimana disampaikan saksi Indra, bahwa saksi Eko Budiyanto menyerahkan uang sebesar Rp20 juta untuk masuk kerja sebagai TKK Dinas Perhubungan (Dishub) kepada terdakwa AJ di ruangan kantornya. Setelah proses serah terima selesai, lalu terdakwa pergi membawa uang tersebut.

Sementara terdakwa AJ menyatakan bahwa setelah proses serah terima uang, saksi Eko (korban) pergi, kemudian uang tersebut diambil oleh saksi Indrawan Ayib Rosyidi lalu diserahkan kepadanya sebesar Rp5 juta. Sedangkan sisanya dibawa saksi Indra (Rp15 juta) dengan alasan untuk keperluan pencalonan terdakwa sebagai Ketua Organda Kota bekasi.

Dikarenakan pimpinan sidang sedang kurang sehat, Hakim Togi Pardede SH memutuskan untuk menunda sidang, dan akan dilanjutkan pada hari Senin,(25/10/2020) pekan depan dengan agenda yang sama.

Ditemui usai sidang, penasihat hukum terdakwa, RM Purwadi SH mengatakan pihaknya terus akan melakukan pemeriksaan untuk meminta keterangan saksi, karena dari 6 saksi yang dihadirkan baru dua orang yang dimintai kesaksian.

“Jadi kita belum bisa melihat secara utuh keseluruhan karena ini baru sementara. Artinya, terdakwa ini belum bisa terbukti bersalah atau tidak karena masih banyak kejanggalan-kejanggalan yang dijelaskan oleh saksi- saksinya,” terang RM Purwadi.

Sementara penasihat hukum korban, Anton R Widodo menyatakan bantahan terdakwa merupakan hal yang wajar di dalam persidangan karena yang dihadirkan saksi yang memberatkannya.

“Tinggal penilaian majelis hakim, bahkan tadi terdakwa meminta saya siap disumpah di atas Alquran dan dilaknat tujuh turunana. Tapi kan ini cuma dipertimbangkan oleh hakim dan saya yakin tidak akan dilaksanakan,”ujarnya

Anton berpendapat, alibi yang dikemukakan oleh terdakwa mungkin karena terdakwa dalam kondisi jiwa yang tertekan. Oleh karena itu ia berharap, Majelis Hakim supaya menggunakan logika hukum juga berprinsip pada keadilan agar sidang dapat berjalan dengan baik sesuai aturan hukum dan Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Logikanya seperti yang terdakwa katakan, bahwa saudara Eko menyerahkan uang kepadanya sebesar Rp20 juta dan diambil saksi Indra Rp15 juta dan dia terima hanya Rp5 juta, kenapa dia memulangkan ke Eko Rp10 juta dan ada surat pernyataan akan mengembalikan sisanya. Kalau tadi ada penyerahan Rp15 juta ke Indra, harusnya kan pernyataan tidak dibuat demikian, tapi ambil saja uangnya ke saksi Indra,”tukasnya. (RAN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*