BABELAN-Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Rakyat Indonesia Berdaya (LSM RIB) Kabupaten Bekasi, Firdaus menduga adanya kongkalikong antara Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPRKPP) Kabupaten Bekasi dengan oknum kontraktor. Rekanan kerja DPRKPP ini diduga kerjasama dengan Konsultan, Pengawas juga PPTK DPRKPP untuk meraup keuntungan lebih besar dengan bekerja tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Hal itu dikatakan Firdaus lantaran terdapat sejumlah proyek peningkatan jalan lingkungan (jaling) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2019 Kabupaten Bekasi di Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan diduga dikerjakan tidak sesuai spek Rencana Anggaran Biaya (RAB).
“Segala macam cara dilakukan oknum kontraktor nakal, mulai dari mengurangi ketebalan beton, aspal hingga mempersiapkan titik untuk pengambilan sample beton (coredrill) sebagai penentu hasil pekerjaan,” beber Firdaus, Senin (21/10/2019).
Ia juga mempertanyakan kinerja Konsultan, Pengawas dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) DPRKPP, karena menurutnya seharunya mereka mampu melakulan pencegahan.
“Hal ini memperkuat dugaan kita bahwa Konsultan, Pengawas dan PPTK bermain dengan oknum kontraktor,” cetus dia.
Ia menjabarkan, ada empat peningkatan jaling di Desa Babelan Kota jadi sorotan lantaran diduga dikerjakan tipis dengan ketebalan beton tidak lebih dari 10 centimeter, serta sudah mempersiapkan titik coredrill, seperti :
1). Peningkatan Jaling Gg. H. Kasir Kp. Babelan RT 015/003 Desa Babelan Kota
2). Peningkatan Jaling Gg. Hj. Mino Kp. Pulo Timaha RT 004/009 Desa Babelan Kota
3). Peningkatan Jaling Gg. H. Jadun Kp. Pulo Asem RT 014/006 Desa Babelan Kota
4). Peningkatan Jaling Gg. Imam Kp. Babelan RT 016/003 Desa Babelan Kota.
Firdaus menambahkan, kalau memang pihak kontraktor dan DPRKPP menyangkal dugaan bahwa titik coredrill sudah dipersiapkan, dirinya menantang untuk dilakukan coredrill ulang.
“Dalam hal ini, Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi (BPKP) Jawa Barat harus memasukan empat judul kegiatan itu ke deretan kegiatan yang akan diperiksa untuk skala prioritas,” tandasnya.
Saat dikonfirmasi bekasiekspres.com, pihak kontraktor membantah telah menyiapkan bagian-bagian untuk dicoredrill. “Lah, nggak ya. Tadi coredrill semua pada nunjuk (memilih bagian untuk dicoredrill-red) , Pengawas, PPTK dan saya juga nunjuk,” kelit pria yang kerap disapa Ade Godel.
Senada dikatakan Pengawas kegiatan dari DPRKPP, Sawar mengaku kalau ketebalan rata-rata dari keempat kegiatan tersebut mencapai lebih dari 13 cm.
“Menurut hitungan dari hasil keempat lokasi kegiatan, ketebalan rata-rata mencapai 13 cm lebih,” ungkap Sawar ketika dihubungi bekasiekspres.com, melalui sambungan selulernya, Senin (21/10/2019).
Sawar mengaku bahwa tidak tahu kalau ada tanda-tanda khusus yang sudah dibuat untuk menentukan titik coredrill. Bukan hanya kontraktor yang diberi kesempatan menentukan titik yang akan dicoredrill, pengawas, konsultan dan PPTK pun menunjuk lokasi yang akan di- coredrill.
“Saya tidak tahu kalau ada tanda yang sudah dibuat untuk menentukan titik coredrill, semua dikasih kesempatan untuk menunjuk titik yang akan di- coredrill,” kilahnya.
Namun ketika ditanya dimana lokasi titik yang ditunjuk oleh dirinya dan berapa ketebalannya, Sawar mengaku lupa di mana titik dan lokasi yang ditunjuk olehnya.
“Saya lupa dimana lokasi yang saya tunjuk, yang jelas semua dikasih kesempatan menunjuk titik yang akan di-coredril,” kata Sawar.
Bahkan anehnya, ketika diminta hasil setiap titik yang diambil sampel ketebalan pada keempat kegiatan tersebut, dirinya mengaku belum menghitung dan menerima hasilnya dari konsultan.
“Saya belum menerima seluruhnya bang, dan saya pun belum menghitung rata-rata ketebalan dari keempat kegiatan tersebut,” kelitnya. (FER/ZAL)
Leave a Reply