BEKASI SELATAN-Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke 55 yang jatuh pada tanggal 22 Oktober, BAZNAS Kota Bekasi bekerjasama dengan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) setempat mengelar diskusi publik yang bertemakan “Menangkal Radikalisme Atas Nama Agama”. Kegiatan diikuti para pemimpin dan pengurus Pondok Pesantren (Ponpes).
Bertempat di Aula Multazam Gedung Islamic Centre Bekasi, diskusi juga dihadiri Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Indarto, ketua BAZNAS Kota Bekasi H. Paray Said, Ketua FKPP KH. Aiz Muhajirin dengan menghadirkan moderator peneliti radikalisme Dr.KH Toufik MA.
Ketua FKPP Kota Bekasi KH. Aiz Muhajirin mengatakan, tujuan dari kegiatan diskusi adalah untuk melakukan upaya-upaya preventif terhadap penyebaran faham radikalisme di lingkup pesantren.
“Kami berharap pimpinan ponpes lebih berperan aktif memjaga soliditas dan keamanan di lingkungan masing-masing, karena bagaimananpun juga warga ponpes itu menjadi tanggung jawab pimpinan ponpes itu sendiri,”ujarnya kepada awak media, Kamis (24/10/2019).
Mengenai tema diskusi terkait radikalisme, Ustad Aiz memaparkan bahwa hari ini membahas hal yang kesannya itu serius, dalam artian pesantren juga harus turut hadir di dalam menangkal radikalisme.
“Karena bagaimananpun juga, suka atau tidak suka stigma pesantren itu sebagai produk radikalisme, terus menjadi momok dan terus menjadi stigma yang negatif. Ini yang harus kita counter, bahwasanya pondok pesantren itu tidak mengajarkan radikalisme,justru pesantren itu mengajarkan kebersamaan,”terangnya.
Menurut dia, radikalisme itu ada 2 (dua) jenis, ada yang terkait langsung dengan fisik dan ada juga yang terkait dengan verbal (ucapan).
“Kalau yang secara fisik,mungkin kita semua sepakat bahwasanya itu adalah perbuatan yang melanggar hukum,tapi yang juga perlu diperhatikan radikalisme dalam arti verbal. Ceramah-ceramah yang tendensius, ucapan yang tidak pada tempatnya, ini juga di- clear-kan. Dalam hal ini pesantren juga harus punya peran di situ, karena bagaimanapun juga pimpinan pesantren ini semua da’i, semua penceramah, mereka juga menjadi hal yang sangat penting dalam menyampaikan pesan-pesan kedamaian itu,”bebernya.
Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Indarto menambahkan, ciri-ciri kaum radikalisme secara umum adalah mereka menyatakan diri secara dan include kelompoknya adalah yang paling benar, dan menganggap kelompok atau orang lain yang tidak sepaham dengan mereka itu salah.
“Ini yang paling bahaya, karena toleransinya ya memang sudah seperti itu, jadi tidak ada kesempatan, pokoknya yang paling benar adalah saya dan kelompok saya, kelompok lain bukan,”tukasnya.(RAN)
Leave a Reply