BEKASI BARAT-Dunia pendidikan Kota Bekasi kembali tercoreng dengan viralnya video persekusi yang dilakukan oknum guru staf bimbingan kesiswaan SMA Negeri 12 Kota Bekasi terhadap beberapa siswa yang datang terlambat dan kedapatan tidak memakai gesper (ikat pinggang).
Seyogyanya seorang guru wajib digugu dan ditiru oleh para siswa didiknya, namun perbuatan yang dilakukan Hidiyanto Muin, guru staf binbingan kesiswaan SMA Negeri 12 Kota Bekasi sama sekali tidak mencerminkan perilaku yang wajib ditiru, karena secara membabi buta telah memukuli para siswanya yang terlambat datang ke sekolah serta tidak mengenakan gesper.
“Kejadian terjadi pada Selasa (11/02/2020) kemarin sekitar jam 8 pagi, siswa yang datang terlambat ada seratusan lebih,” ujar Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 12 Kota Bekasi, Ade Saeful Bahri saat ditemuin Bekasiekspres.com di ruangannya, Rabu (12/02/2020).
Dia memapaparkan, waktu itu siswa yang datang terlambat dikumpulkan oleh guru BK (Bimbingan Konsultasi) dan staff kesiswaan di halaman sekolah. Sewaktu ada pemeriksaan kelengkapan atribut, didapati 5 orang siswa yang tidak memakai gesper (ikat pinggang).
“Tiba-tiba ada pengecekan atribut, ada beberapa tidak memakai gesper, pak Hidiyanto Muin marah dan langsung memukuli siswa,” terang dia.
Lanjutnya, kelima orang siswa yang mendapat tindakan anarkis dari oknum guru tersebut adalah, Muhamad Ehadel Aulia, Pascali Gitan Pinandhito, Dzikry Zulfikar, Alifito Yusuf Akmal dan Wahid Sanjaya.
“Namun siswa yang terekam dalam video tersebut adalah Wahid Sanjaya, siswa kelas VII IPS 2. Kelima orang siswa hari ini membuat pernyataan tidak menerima perlakuan guru tersebut, mereka juga mempertanyakan, ‘apakah pantas diperlakukan seperti itu hanya karena tidak makai gesper,” terangnya.
Diungkapkan Ade, Hidiyanto Muin telah cukup lama mengajar di SMA Negeri 12 (dari tahun 2008), selama ini ia memang dikenal mempunyai perangai yang temperamental, baik itu kepada sesama rekan pendidik maupun murid di SMA Negeri 12 Kota Bekasi.
“Dia orangnya temperamental sudah sejak dulu. Pernah berantem dengan sesama guru, pernah nonjok pintu, menendang makanan murid sewaktu di kantin, guru-guru yang lain pada segan dan memilih diam karena tidak mau terlibat masalah dengannya,” bebernya.
Menurutnya, saat ini pihak sekolah telah menonjobkan oknum guru tersebut, sementara tidak diperkenankan mengajar. Ade juga turut menyesalkan adanya kejadian itu dan mengembalikan semuanya kepada Dinas Pendidikan.
“Kalaupun ada orang tua siswa yang merekomendasikan guru tersebut untuk dipecat, pihak sekolah akan mengakomodir, karena ini adalah wewenang Dinas Pendidikan Provinsi,”pungkasnya. (RAN)
Leave a Reply