CIKARANG PUSAT – Pengusaha Mie dan Bakso Indonesia (Papmiso) menyebut ribuan pedagang bakso terancam gulung tikar lantaran mahalnya harga daging sapi di pasaran serta dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.
Akibat pedagang daging sapi se- Jabotabek melakukan mogok jualan beberapa hari, imbasnya harga daging melambung tinggi lantaran rendahnya suplay di pasaran.
“Jika kondisi seperti ini (Pandemi Covid-19 dan harga daging mahal) terus berlangsung, maka ribuan pedagang bakso terancam bangkrut,” demikian ungkap Sekjen Papmiso, Bambang Hariyanto, Sabtu (23/01/2021).
Bambang pun berkata, bahkan di pasaran telah terjadi kelangkaan bahan pangan seperti: tempe, tahu dan toge. Serta sambung Bambang, melambungnya harga cabai rawit yang mencapai harga 90.000/kg, harga ayam Rp 28.000/kg,daging sapi segar Rp 125.000/kg, daging sapi import Rp 80.000/kg.
Imbasnya, kata dia, banyak pelaku UMKM di sektor kuliner yang berbahan baku daging sapi mengeluh, salah satunya ribuan penjual bakso. Hal ini terjadi akibat mahalnya bahan baku.
Menurut dia, sementara itu ribuan pedagang bakso dan pelaku UMKM lainnya,tidak bisa menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat yg rendah akibat pandemi Covid-19.
“Selama PSBB dan PPKM, omzet mereka (pedagang bakso dan UMKM) turun drastis hingga 50% dari biasanya,” beber Bambang.
Selain menurunnya omzet penjualan, papar dia, juga karena jam operasional jualan para pelaku UMKM dan pengunjung makan di tempat (dine-in) dibatasi, sehingga otomatis pendapatan atau omzet mereka berkurang.
Dijelaskan Bambang, karut marut tata kelola niaga daging sapi di Indonesia sudah terjadi sejak Tahun 2004. Karena banyak dikuasai oleh mafia/kartel daging sapi, baik sapi hidup ataupun daging sapi beku import. Padahal pada masa pemerintahan Presiden SBY mencanangkan swasembada daging sapi pada tahun 2024.
“Buruknya tata kelola niaga daging sapi ini menyebabkan masyarakat kecil yang seharusnya bisa membeli daging sapi dangan harga yang murah, tetapi faktanya harganya mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Hanya di Era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pak Ahok, rakyat kecil mendapatkan subdisi untuk membeli daging sapi dengan harga yang murah,” ujar Bambang.
Masih kata Bambang, begitu pun dengan regulasi dan pejabat pelaksana yang lebih condong mempermudah proses import dari pada pemberdayaan dan perlindungan terhadap para peternak sapi lokal.Padahal Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM)- nya sangat kaya dan mumpuni, serta hasil daging sapinya lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah.
“Kami selaku perwakilan Asosiasi Pedagang Bakso Indonesia memohon kepada yang terhormat Bapak Presiden Jokowi agar segera membuat regulasi dan membenahi tata kelola niaga daging sapi di Indonesia ini,” harap Bambang.
“Agar rakyat, pedagang kecil, dan peternak sapi lokal bisa mendapatkan harga daging sapi yang lebih murah dan berkualitas super, sehingga akhirnya Indonesia bisa swasembada daging sapi pada tahun 2030,” harap Bambang lagi.(RED)
Leave a Reply