CIKARANG PUSAT -Pengurus Papmiso (Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso) Indonesia didampingi oleh Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Fraksi PDI-P, Nyumarno, SM, melakukan audiensi dengan Menteri Koperasi & UKM RI, Teten Masduki, Selasa (26/01/2021).
Audiensi Pengurus Papmiso untuk menyampaikan keluhan (curhat) lantaran tingginya harga daging sapi di pasaran, dan kondisi stabilitas harganya tidak kunjung normal dalam beberapa hari ini.
Pasca-mogok jualan para pedagang daging sapi se-Jabodetabek, permasalahan harga daging sapi di lapangan, masih tinggi. Hal tersebut membuat ribuan pedagang bakso terancam gulung tikar, akibat mahalnya harga daging sebagai bahan baku utama jualan mereka.
Sementara mereka (pedagang bakso) tidak bisa menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat yang rendah dan turun drastis akibat dari pandemi Covid-19.
PSBB dan PPKM yang diterapkan oleh pemerintah saja sudah membuat omzet/penghasilan para pedagang bakso turun hingga 50%. Apalagi ditambah dengan mahalnya bahan baku utama (daging) dan bumbu tambahan bahan bakso.
Di pasaran, terpantau harga bahan baku bakso masih tergolong tinggi, diantaranya harga daging sapi segar Rp 130.000/kg, daging sapi beku Rp 80.000/kg, harga ayam Rp 32.000/kg, harga cabai rawit Rp 85.000/kg, dan belum lagi tingginya bumbu-bumbu perlengkapan bakso lainnya.
Kenaikan harga daging sapi pada saat ini mengagetkan semua pihak. Karena biasanya kenaikan harga daging sapi itu terjadi pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal serta Tahun Baru. Itupun tidak berlangsung lama, biasanya setelah perayaan hari besar itu harga segera normal kembali.
Saat ini harga daging sapi mencapai Rp 130.000/kg, maka dikawatirkan pas Hari Raya Idul Fitri harganya bisa mencapai Rp 150.000/kg. Ini bisa menjadi harga daging sapi tertinggi di dunia.
“Alhamdulillah Pak Menteri Teten Masduki menerima kami dengan hangat dan terbuka. Kami pengurus sangat terharu, baru kali ini pedagang bakso diterima dengan sangat baik di kantor Kementerian Koperasi & UKM RI,” ungkap Sekretaris Papmiso Indonesia, Bambang Hariyanto kepada awak media pasca-audiensi.
“Pak Teten Masduki mendengarkan semua keluh kesah dan jeritan hati dari perwakilan pedagang mie dan bakso. Baik dari mahalnya harga daging sapi, harga ayam, cabai hingga permasalahan program BPUM atau program bantuan lain dari Kementerian Koperasi & UKM RI,” ungkap Bambang Hariyanto menambahkan.
Bambang pun menyebut saat audiensi itu Menteri Teten Masduki berjanji akan membantu mencarikan solusi atas permasalahan sebagian besar pedagang bakso, karena mayoritas pedagang bakso adalah pelaku UKM.
Beliau (Menteri Koperasi dan UKM RI-red), papar Bambang, juga akan membantu memfasilitasi Koperasi Papmiso untuk dapat bekerjasama dengan para peternak sapi lokal di daerah-daerah, dengan tujuan agar mensuplai bahan baku untuk para pedagang bakso.
“Karena daging sapi lokal berkualitas baik dan paling bagus untuk membuat bakso. Pak Menteri mendorong rekan-rekan pedagang bakso untuk mengoptimalkan pemenuhan daging sapi lokal daripada selalu bergantung pada import dari negara lain, meskipun data secara nasional akan kebutuhan daging, belum sepenuhnya terpenuhi dari peternak lokal,” ujar Bambang mengakhiri keterangannya.
Turut menambahkan, Anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari Fraksi PDI Perjuangan, Nyumarno mengaku turut hadir mendampingi audiensi Papmiso dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI dikarenakan banyaknya keluhan para pelaku UKM, khususnya pedagang bakso yang terdampak kenaikan harga daging dan pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.
“Ya, memang saya yang menyarankan rekan-rekan Papmiso untuk berkirim surat ke Kementerian Koperasi dan UKM RI, juga ke Kementerian Perdagangan untuk menyikapi keluhan-keluhan tersebut,” terang Nyumarno.
Nyumarno menjelaskan, rekan-rekan Papmiso berkirim surat ke Kemenkop dan UKM RI pada tanggal 20 Januari 2021 yang lalu, saat setelah hari pertama pedagang daging mogok jualan. Hal tersebut, sambung dia, berampak kepada rekan-rekan UKM pedagang bakso. Mereka kesulitan mendapatkan daging sebagai bahan baku utama bakso.
“Saya sangat mengapresiasi langkah Pak Menteri Koperasi dan UKM RI yang dengan cepat merespon Surat Permohonan Audiensi dari Papmiso. Rekan-rekan Papmiso bisa diundang oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI pada Selasa, 26 Januari 2021 kemarin,” beber Nyumarno.
Dalam pertemuan tersebut, kata Nyumarno, ada 3 (tiga) hal prinsip yang disampaikan rekan-rekan Papmiso.
“Yang pertama, rekan-rekam UKM pedagang mie dan bakso berharap dapat mengakses bantuan BPUM dan atau program lain, seperti LPDB atau bantuan permodalan dari Kemenkop dan UKM RI. Kemudian yang kedua, rekan-rekan yang sudah memiliki Koperasi Produses sejak tahun 2007 ini berharap dapat difasilitasi oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk bekerjasama dengan peternak-peternak sapi lokal di daerah,” ujar Nyumarno.
“Selanjutnya yang ketiga yakni, rekan-rekan meminta difasilitasi untuk dihubungkan dengan Bulog, agar saat membeli daging impor bisa langsung ke Bulog, dan tidak harus melalui tangan-tangan oknum lagi,” ujar Nyumarno lagi.
Menurut Nyumarno, tiga hal yang disampaikan rekan-rekan pedagang bakso menjadi catatan penting yang akan segera menjadi tindak lanjut Kemenkop dan UKM RI. Menteri Teten Masduki bahkan langsung meminta Deputi dan Staff Khusus Menteri untuk mencatat dan segera melakukan upaya-upaya tindak lanjut atas permohonan rekan-rekan pedagang bakso.
Diakhir audiensi, dirinya juga menambahkan keluhan kaitan masih banyaknya masyarakat yang belum menerima BPUM, seperti ojek online (ojol), ojek pangkalan (opang), dan para pekerja seni dan budaya yang tidak bisa tampil di masa pandemi Covid-19 ini.
“Mohon agar diberikan kesempatan untuk dibuka kembali program BPUM tersebut, dan pengajuannya dimudahkan melalui koperasi atau lembaga-lembaga komunitas yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Nyumarno.
“Selain itu, saya juga turut sampaikan keluhan masyarakat yang sudah menerima BPUM, yang rekening penerimanya juga dilakukan pendebitan saldo oleh pihak bank, dengan alibi calon penerima dibatalkan oleh pusat,” demikian Nyumarno menambahkan. (RED)
Leave a Reply