JAKARTA – Kelapa Emas Hijau Indonesia menghadirkan berjuta peluang melalui investasi dalam kegiatan Talkshow yang digelar Grand Coco Village di Studio gomuslim, Jakarta Timur, Minggu (29/9/2019) pagi.
Pada kesempatan tersebut juga digelar launching Cocopreneur dan Community Gathering, peluncuran Wakaf Produktif Cluster Khaibar, Investasi dan Bisnis Syariah berbasis kelapa, serta seremoni penandatangan AJB.
Dalam sambutannya, Direktur Grand Coco Village, Marzuki, mengatakan, talkshow ini merupakan kelanjutan dari launching Grand Coco Village, Agustus 2018 yang lalu di Hotek Bumi Wiyata Depok.
“Diharapkan, dengan menyatukan para stakeholder dan shareholder, dapat memajukan dan mensejahterakan kita semua, dalam hal ini kelapa dan industri turunanya.”ucapnya.
Marzuki memaparkan, Gerakan Desa Emas bertujuan untuk mewujudkan desa yang mandiri melalui sinergitas dan diharapkan terjadi percepatan bagi pengembangan investasi di industri kelapa dari hulu hingga hilir.
“Konsep yang dibangun adalah PELAJU (Petik, Olah, Jual, dan Untung). Nantinya, akan memberi kontrbusi bagi kemakmuran masyarakat yang terlibat dalam perkebunan kelapa dan industrinya,” terang Marzuki.
Terlebih, kata Marzuki, kelapa merupakan komoditas yang luasnya lahanya mencapai 3,6 juta hektar di dunia. Pengembangan dan kepemilikannya, 98 persen merupakan perkebunan rakyat. Meski telah puluhan tahun, perkebunan kelapa masih berdiri tegak adalah bukti, kelapa komuditas yang sangat monumental.
“Saat ini kelapa dikembangkan oleh BUMN (6,1 persen) dan swasta hanya 0,9 persen. Padahal potensi dan peluang investasi kelapa sangat besar. Program pemerintah, misalnya telah menyediakan 500 juta benih, salah satunya kelapa,” paparnya.
Dikatakanya, saat ini ada 19 komoditas yang wajib dibina dan dibesarkan, salah satunya kelapa.
“Bicara industri kelapa, tentu harus dari hulu hingga hilir. Harus diakui, pengembangan dari hulunya harus dibenahi, mengingat 100 persen perkebunan rakyat dimanaje tidak teratur. Padahal bicara bisnis, jika teratur akan menghasilkan yang lebih dahsyat lagi,” ungkapnya.
Dipaparkan Marzuki, Grand Coco Village memulainya dari hulu pengembangannya, yakni dengan kavling produktif pohon kelapa yang nantinya menjadikan kelapa sebagai bahan bakunya. Grand Coco Village ingin membuat sistem pola penanaman yang teratur agar menghasilkan populasi kelapa yang lebih banyak, ketimbang penanaman tradisional yamg tidak teratur.
“Kami menawarkan para investor untuk berinvestasi berupa tanah satu kavling seluas 1000 meter dengan legalitas SHM untuk ditanami setiap 1 hektar terdapat 320 pohon. Kemudian juga ditanami tanaman tumpang sari. Kami buka dengan harga Rp. 50 juta. Kelapa adalah peluang investasi yang menarik,’ kata Marzuki.
Ia melanjutkan, dimulai dari pembibitan dengan varietas unggul, yang impactnya berlanjut pada proses budidaya. Dari kavling produktif, lalu diolah untuk dijual (market) guna mendapatkan nilai tambah dari hasil budidaya kelapa.
“Grand Coco Village merupakan kombinasi Residence dengan Agro. Dikarenakan pengelolanya sebagian besar pemain lama di residence, lalu melihat ada potensi agro yang bisa dikembangkan, maka ada 200 hektar yang telah digarap untuk dikembangkan ke daerah lain untuk perluasan lahan.”terangnya
“Kenapa kelapa, karena Indonesia adalah kawasan tropis, dimana kelapa tumbuh dengan iklim tropis. Disamping faktor kesuburan tanah, kelapa adalah varietas yang bandel, terdampar dipantai pun bisa tumbuh,” imbuhnya. (RAN)
Leave a Reply