BEKASI TIMUR-Wabah corona di Indonesia yang kasusnya semakin hari masih saja terus meningkat, selain berdampak pada kondisi kesehatan warga dan perputaran roda ekonomi rakyat, juga dapat berekses pada hilangnya nilai-nilai pancasila di masyarakat.
Demikian disampaikan oleh Ketua Kelompok Orang Muda Peduli Alam Semesta (Kompas) Bekasi, Ricky Erviantara.
Ricky mengaku kecewa dengan perilaku masyarakat di beberapa daerah yang dianggapnya terlalu berlebihan. Seperti saat kejadian pengadangan ambulan di tengah jalan dan kasus-kasus penolakan jenazah korban corona di pemakaman.
Menurutnya, kejadian tersebut sudah menyimpang dari esensi nilai pancasila khususnya sila ke-2 tentang perikemanusiaan dan perikeadilan.
Kemudian kasus bullying serta pemberian stigma kepada tim medis dan masyarakat perantauan yang mudik ke kampung halaman sebagai pembawa sekaligus penyebar virus, dianggap sama sekali tidak mencerminkan esensi nilai dari sila ke-3 Persatuan Indonesia.
Kasus-kasus di daerah seperti ini, papar dia, jika dibiarkan dan tidak segera ditangani, dampaknya justeru bisa jadi lebih berbahaya daripada wabah virus itu sendiri.
“Yang lebih berbahaya dari corona adalah perpecahan bangsa Indonesia. Para pahlawan dulu mengesampingkan kesehatannya demi mewujudkan persatuan bangsa, mengapa saat ini ada yang malah mengesampingkan persatuan hanya untuk mendapatkan kesehatan?” ungkap Ricky, Jumat (10/04/2020).
Ricky juga kecewa dengan beberapa media massa yang mengemas isu corona secara berlebihan.
“Media massa yang memberitakan bahaya corona secara berlebihan dapat membuat masyarakat yang sudah takut menjadi semakin ketakutan, kemudian suguhan informasi yang salah juga dapat berpengaruh pada perilaku masyarakat yang jadi ikutan salah,” katanya.
Ricky berharap agar kasus-kasus serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.Ia pun mengajak seluruh elemen supaya dapat kompak melawan wabah ini.
“Pemerintah yang atur sistemnya, tim medis di bagian pengobatan, rakyat lain fokus ke pencegahan,” ujarnya mengakhiri.(ZAL)
Leave a Reply