Kesepakatan Belum Dipenuhi, Warga Perumahan Harapan Tolak Pembongkaran Tanggul Kali

SPANDUK PENOLAKAN: Warga memasang spanduk penolakan pembongkaran tanggul Kali Kapuk.

MEDAN SATRIA – Warga Perumahan Harapan menolak pembongkaran tanggul Jembatan Talang yang berada di aliran Kali Kapuk, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria,Kota Bekasi.

Puluhan warga dari RW 16, RW 17, RW 18, RW 19 dan RW 20 berkumpul di lokasi tanggul yang terletak di samping Pasar Famili Harapan Indah. Mereka sepakat menolak rencana pembongkaran tanggul kali oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, karena dikhawatirkan akan lebih memperparah banjir di wilayahnya.

“Ini yang dipermasalahkan oleh yang hulu, RW 24 yang mempermasalahkan ini, menurut mereka dengan adanya jembatan ini sehingga di sana banjir menyangkut sampah dan sebagainya. Yang perlu digaris bawahi 33 RW di Kelurahan Pejuang ini semuanya banjir, kecuali RW 31,” ujar Agus Wahyudi, Ketua RW 20 kepada awak media, Selasa (28/07/2020).

Sebab menurut dia, dengan dibongkarnya Jembatan Talang, warga yang tinggal di hilir akan terdampak banjir karena debit air semakin deras. Terkait hal itu Agus mengungkapkan sebelumnya warga telah sepakat dalam rapat bersama di kantor kecamatan, bahwa pembongkaran akan dilaksanakan bareng dengan normalisasi Kali Kapuk, pembuatan folder dan rumah pompa.

Namun lanjut dia, belakangan H Pono, Ketua RW 24 yang mengatasnamakan Forum Komunikasi Rukun Warga (FKRW) mengadakan pertemuan sepihak dengan Wali Kota di rumahnya tanpa melibatkan warga di RW lainnya.

“Kalau buat saya tersembunyi pertemuan ini, karena kita warga RW yang di hilir ini tidak dilibatkan. Tapi pertemuan itu mengatasnamakan FKRW Kelurahan Pejuang yang diprakarsai oleh ketua RW-nya sendiri Haji Pono, dirumah H Pono antara Wali kota dan ketua FKRW,”imbuhnya.

“Kalau semua diundang pada waktu itu mungkin pak wali ada dua masukan dari RW yang di hulu dan RW yang di hilir, tapi kan ini akhirnya tidak ada masukan warga yang di hilir,”bebernya.

Dirinya juga menyayangkan kesepakatan warga dalam pertemuan yang diprakarsai oleh lurah dan camat namun tidak disampaikan kepada wali kota.

“Mustinya camat, lurah juga menyampaikan. Kan pembongkaran ini sudah dimediasi oleh camat antar kita (warga), tapi itu kenapa tidak disampaikan kepada Pak Wali Kota pada saat itu, sehingga timbul masalah sepihak ini,”ujarnya.

Lebih lanjut Agus menegaskan, warganya tidak menolak tanggul tersebut untuk dibongkar, hanya saja ia berharap agar semua yang telah menjadi kesepakatan bersama antar warga dapat direalisasikan.

“Ini (tanggul) silahkan dibongkar, kita tidak menolak pembongkaran, tapi tolong dikerjakan dahulu bersama normalisasi Kali Kapuk, pembuatan folder dan pompa air,”pungkasnya. (RAN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*