CIKARANG TIMUR – Banjir yang melanda Kabupaten Bekasi beberapa hari ini tergolong dahsat dan dampaknya sangat masif. Analisa penyebab dan penanggulangan banjir pun bermunculan di tataran publik.
Seperti analisa yang disampaikan Ketua Umum LSM Sniper Indonesia, Gunawan.
Menurut Gunawan, Sungai Citarum adalah sungai yang memiliki bantaran sungai yang lebar dan tanggul yang tinggi. Artinya, wilayah di sepanjang sungai itu akan terendam banjir manakala Tanggul Citarum jebol.
Sedangkan Sungai Cibeet, masih menurut Gunawan, adalah sungai yang tidak memiliki bantaran sungai maupun tanggul.
“Saat Sungai Cibeet airnya meluap, maka wilayah yang berdekatan dengan sungai itu akan terendam banjir dan meluas ke wilayah hilir lainnya.
Artinya Sungai Citarum dengan Cibeet berbeda karakteristiknya,” ungkap Gunawan, Rabu (24/02/2021).
Gunawan pun menerangkan soal sifat air dan karakteristik Sungai Cibeet, diantaranya:
Pertama, kata dia, sifat air adalah air mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah atau mengalir dari hulu ke hilir. Yang kedua, mitigasi banjir adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko banjir, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman banjir.
Kemudian yang ketiga, sambung Gunawan, banjir adalah peristiwa bencana alam yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Banjir juga dapat terjadi ketika aliran air sungai melebihi kapasitas sungai, contohnya banjir Sungai Cibeet.
Selanjutnya yang keempat, masih kata Gunawan, Sungai Cibeet adalah sungai alam yang membelah dua wilayah yaitu Kabupaten Karawang dan Bekasi. Sungai Cibeet memiliki dua anak sungai besar yaitu Cigentis yang berhulu di Cianjur dan Cipamingkis yang berhulu di Bogor.
Gunawan menambahkan, Desa Pasirtanjung, Cipayung dan Labansari adalah desa di Kabupaten Bekasi yang wilayahnya berdekatan/berhimpitan dengan sungai Cibeet, karena ketiga desa itu terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibeet.
Dijelaskan, sebelah utara (hilir) Pasir Tanjung adalah Desa Hegarmanah, Jati Baru, dan seterusnya. Sedangkan sebelah Utara (hilir) Cipayung, yakni Desa Tanjung Baru, Karang Sambung, dan lainnya. Untuk sebelah utara (hilir) Desa Labansari, adalah Desa Bojongsari, Waringinjaya, dan desa lainnya.
“Pemerintah Kabupaten Bekasi mestinya mampu melakukan mitigasi banjir Cibeet. Memulainya dari mana?, tentunya pemda mesti mengetahui dulu sumber banjirnya dan titiknya dimana?,” ujar Gunawan.
“Sumber banjir berasal dari luapan air Cibeet dan titik banjir ada di 3 lokasi, yaitu Pasirtanjung, Cipayung dan Labansari,” ujar Gunawan lagi.
Besarnya luapan air Sungai Cibe’et (Banjir yang terjadi pada tanggal 19 hingga 21 Februari 2021), papar Gunawan, terbukti telah menjadikan desa – desa di wilayah hilir menjadi lautan, transportasi KA Jakarta – Jawa terputus, dan transportasi darat Jalan Negara pun ikut terputus.
“Ini adalah fakta bahwa luapan air Sungai Cibeet menyebabkan bencana banjir dan berdampak bagi kehidupan dan kelangsungan perekonomian daerah maupun negara,” tegas dia.
“Agar banjir Cibeet tidak meluas ke desa – desa yang ada di wilayah hilir, seperti banjir yang terjadi pada 19 – 21 Februari 2021 lalu, maka mitigasi banjir dapat dilakukan oleh Pemkab Bekasi, dan harus memulainya di Desa Pasirtanjung, Cipayung dan Labansari,” demikian Gunawam mengakhiri tanggapannya.(ZAL)
Leave a Reply