Ponpes An-nur Peringati Haul Tokoh Pendiri NU Kota Bekasi

Suasana peringatan haul di Ponpes An-nur.

BEKASI UTARA-Pondok Pesantren (Ponpes) An-nur yang terletak di Jalan.H. Mukhtar Tabrani, Kelurahan Perwira, Bekasi Utara, hari ini menghelat haul ke 13 wafatnya KH. Aminulloh Muhtar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Kota Bekasi dengan disertai pengajian ibu-ibu dari PC NU.

“Kyai Aminulloh Muhtar ini merupakan pendiri NU Kota Bekasi, deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus pendiri Ponpes An-nur juga pendiri BKMB bambu lima,” ucap Eri Mutawali, salah satu keluarga yang juga pengurus Ponpes An-nur kepada awak media Minggu,(26/01/2020).

Diungkapkan Eri, dalam setiap tahun, di Ponpes An-nur ada tiga kegiatan haul, haul KH. Muhtar Tabrani, haul KH. Aminulloh Muhtar dan haul KH. Aminuddin. Kegiatan haul selalu dilaksanakan setiap tahun sebagai refleksi bagi generasi penerus untuk menauladani perjuangan beliau.

“Kegiatan ini menjadi refleksi bagi murid-murid beliau,bagi sahabat beliau, khususnya bagi warga Nahdliyin, PKB,alumni Ponpes untuk mengenang perjuangan beliau,” terangnya.

Ke depan lanjut Eri, akan dibuatkan manakib (biografi) mengenai KH. Aminulloh agar kisah perjuangan beliau bisa dibaca oleh para penerus beserta murid-murid dan anak cucu juga generasi selanjutnya.

“Contoh perjuangan beliau khususnya di bidang sosial keagamaan, di NU adalah Jama’ah Ahnadiyah NU, kemudian di bidang pendididkan meneruskan perjuangan Ponpes An-nur, dalam bidang politik ya PKB. Itu nanti yang kita ingin masyarakat mengetahuinya,”bebernya.

Dalam keluarga, papar Eri Mutawali, KH. Aminulloh menjadi kebanggaan karena dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja dan tanpa pamrih dalam memperjuangkan kemaslahatan umat.

“Orangnya berjiwa besar, terus juga mau menerima masukan dari orang lain dan tahan banting. Khususnya untuk di pesantren ini sepeninggal KH.Muhtar Tabrani yang menjadi andalan di keluarga KH. Aminulloh dan KH.Aminuddin,”ungkap Eri

“Jadi KH.Aminulloh ini jaga gawang di pesantren, sambil berpolitik,makanya beliau disebut Kyai Politik, kalau KH. Aminuddin lebih kepada syiar menjadi mubalig. Sebelum meninggal, beliau bertiga ini berpesan kepada keluarga dan anak-anaknya, harus dijaga dan dirawat, dan ini menjadi wasiat bagi kami di keluarga, yang otomatis juga wasiat bagi penerus ideologi mereka di Kota Bekasi,” imbuhnya mengakhiri. (RAN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*