BABELAN-Belum reda duka atas meninggalnya sang buah hati karena tenggelam di danau bekas galian Perumahan Wahana Babelan, ketiga keluarga korban dibuat geram saat disodorkan surat pernyataan berbunyi menolak visum dan tidak akan menuntut pihak manapun secara hukum.
Orangtua korban tenggelam inisial FL (13), Masum menuturkan, usai proses pemakaman, ia disodorkan selembar surat tulisan tangan oleh Ketua RT setempat. Dalam surat pernyataan tidak akan menuntut, selain bertuliskan namanya, juga terdapat tiga kolom kosong belum ditandatangani. Diantaranya, Kepala Desa Babelan Kota, Saidih David, Ketua RT dan RW.
Kendati dalam suasana duka dan sedih, surat tersebut tidak digubris. Hingga akhirnya diminta kembali oleh Ketua RT.
“Bingung saya, padahal saya masih kondisi sedih tapi sudah diberikan surat begituan. Apalagi tulisannya tidak akan menuntut, jadi saya tidak mau tandatangan,” cetus Masum, Jumat (13/03/2020) malam.
Senada dikatakan Rudy, kakek dari korban RS (9) ini juga mengaku sempat disodorkan surat pernyataan namun ia menolak menandatangani.
“Awalnya sih saya gak mau tanda tangan karena ada tulisan tidak akan menuntut. Tapi kemudian Binmaspol Polsek Babelan beserta Ketua RT dan RW datang menjelaskan bahwa surat tersebut hanya untuk menolak visum,” terangnya.
Lanjut Rudy, Binmaspol menjelaskan bahwa tulisan tidak menuntut itu bukan berarti tidak ada tanggungjawab dari pengembang perumahan, tetapi akan ada kebijakan dari pihak pengembang.
“Katanya pengembang itu urusannya dengan aparat secara internal, dan hari Senin saya akan dipertemukan oleh pihak pengembang untuk musyawarah,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, sangat berterimakasih dan mempersilahkan jika ada pihak manapun yang membantu menuntut pengembang Perumahan Wahana Babelan. Hal ini agar ada efek jera dan harus bertanggungjawab serta memasang pengamanan danau agar tidak ada korban selanjutnya.
“Pokoknya danau itu dalem banget, bahaya gak ada pengaman atau peringatan larangan aktivitas di dekat danau,” pungkasnya.
Sementara, Kardi selaku Ketua RT di kediaman korban inisial RF (10) mengatakan, surat pernyataan itu ditulis oleh Ketua RW 007, Samsuri, tetapi konsepnya dari Binmaspol.
“Kita sih cuma nyampein aja ke keluarga korban, terserah mau tandatangan apa nggak, ini juga sedang dirapatkan di kantor desa,” kata Kardi.
Namanya turut dicatut dalam surat, Kepala Desa Babelan Kota, Saidih David mengaku tidak mengetahui adanya surat pernyataan yang diberikan pada orangtua korban.
“Saya gak tahu tentang surat itu, besok kita dari pemerintah desa akan menyurati pihak pengembang agar datang ke desa untuk membahas kejadian ini,” ucap Kades kepada Bekasiekspres.com melalui selularnya.
Diberitakan sebelumnya, danau galian di Perumahan Wahana Babelan kembali menelan korban jiwa, dimana sebelumnya pada tahun 2018 seorang wanita ditemukan mengambang. Kali ini tiga bocah yang jadi korban, Jumat (13/03/2020).
Ditemui Bekasiekspres.com di lokasi kejadian, Anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kecamatan Babelan, Syamsul menuturkan, Tagana mendapat laporan dari Ketua RT setempat bahwa ada beberapa orang tenggelam.
Setelah dilakukan pencarian bersama Tim Destana Babelan Kota, ditemukan tiga anak usia sekitar sepuluh tahun dengan kondisi tidak bernafas. Seluruh korban merupakan warga Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.
“Korban RF (10) ditemukan pertama pada Pukul 14.10 WIB, delapan belas menit kemudian ditemukan RS (9), disusul penemuan korban ketiga FL (13) Pukul 15.00 WIB,” papar Syamsul.
Lanjut Syamsul, berdasarkan keterangan warga dan beberapa teman korban, mereka bertujuh pada Pukul 14.0 WIB mencari ikan di Danau Wahana Babelan, yakni RF, RS, FL, KK, NL, JB, dan HN.
RF, RS, dan FL berenang ke tengah danau tanpa sadar kedalaman danau semakin dalam. Lalu mereka tenggelam karena tidak bisa berenang.
“Kemudian korban FL dan RS dibawa ke rumah sakit oleh keluarga dan RF dibawa ke rumah duka,” ujarnya.
Sementara, Ketua RT 006/RW 022 Perumahan Wahana Babelan, Desa Babelan Kota, Revy mengatakan, mengetahui ada anak yang tenggelam lantaran ramainya teriakan teman – teman korban. Ia menyesalkan kejadian tenggelam di danau galian Perumahan Wahana Babelan terulang kembali.
“Secepatnya kami akan menemui pihak pengembang agar setiap danau galian dipasangi pengaman serta plang pemberitahuan atau larangan mendekati danau,” pungkasnya. (FER)
Leave a Reply